Minggu, 27 Januari 2013

Sekilas Tentang 
Mbah RADEN ALI
(Sang Pembuka Tanah Ngelom Pesantren Sepanjang)



Pengantar Penulis

Bismillahirrohmanirrohim
 
Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan Sayyid Muhammad dan mengutusnya sebagai rahmat bagi seluruh alam. Shalawatullah wa salamuhu semoga tetap terlimpahkan kepada Beliau, junjungan kita, nabi besar sayyid Muhammad SAW, wa alihi, wa ashhabihi, wa azwajihi, wa dzurriyyatihi, wa ahli baitihil kirom.
Catatan ini sangatlah jauh untuk disebut sebagai Biografi Mbah Raden Ali. Sungguhpun demikian, adalah karna sangat sedikitnya data informasi dan catatan yang menceritakan tentang kehidupan Mbah Raden Ali yang penulis dapatkan sebagai acuan penulisan catatan ini. Semua itu disebabkan karna rentang jarak  waktu masa hidup Mbah Raden Ali dengan waktu penulisan catatan ini sangatlah jauh keterpautannya (kurang lebih selisih sekitar 170 tahun), sehingga orang-orang yang hidup satu kurun waktu dengan beliau, yang pernah bertemu dan mengenal beliau, yang dapat diambil keterangannya prihal Mbah Raden Ali, tidak lagi dapat dijumpai. Kecuali cerita dari mulut ke mulut, dan catatan  tentang Mbah Raden Ali milik Kyai Imam bin Idris bin Muhammad bin Abu Hasan, serta beberapa catatan milik KH Sholeh Qosim, KH Anas, Agus Atiquddin Mustawa, dan Catatan milik Agus Dzofir Thohir yang kemudian pada akhirnya penulis jadikan sebagai acuan bahan penulisan catatan ini.
Kenyataan tersebut yang akhirnya menggugah hati penulis, tergerak untuk membukukan sejarah Mbah Raden Ali. Penulis berfikir, seiring dengan waktu yang terus berlalu, seandainya catatan tentang Mbah Raden Ali milik Kyai Imam bin Idris dan catatan tentang Mbah Raden Ali milik beberapa orang lainnya telah lapuk karna termakan usia sehingga tulisannya tidak lagi dapat terbaca, atau rusak karna tergerus  roda  waktu yang berputar,  sedangkan sejarah tentang Mbah Raden Ali belum sempat dibukukan atau sekedar disalin kembali, maka bukan tidak mungkin lagi, Mbah Raden Ali hanyalah akan menjadi sebuah nama Mbah Raden Ali belaka, yang tak satupun orang dan keturunannya bisa mengenal sejarahnya lagi. Dan bukankah bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa mengenang dan menghargai jasa para pahlawannya ?
Sadar akan hal itu, walau hanya dengan berbekal sedikit keterangan data dan informasi yang di himpun, akhirnya penulis memberanikan diri untuk membukukan kisah Mbah Raden Ali kedalam judul Sekilas Tentang Mbah Raden Ali Sang Pembuka Tanah Ngelom Pesantren Sepanjang. Bukan dengan dan atas tujuan yang lain.
Akhirnya, marilah kita hadiahkan bacaan Surat Al Fatikhah kepada beliau, Mbah Raden  Ali  wa ushulihi wa furu’ihi, wa man intasaba ilaihi, wa man ahabba ilaihi, wa man zaro ila qobrihi, semoga Allah mensucikan jiwa dan ruhnya, Amin ya Rabbal Alamin, Al Fatihah : ……
                                                 



Pendahuluan
Sekilas profil tentang Raden Ali
                  Mbah Raden Ali adalah seorang ulama’ pembuka (babat) tanah Ngelom Pesantren pada sekitar tahun 1261 Hijriyyah, beliau juga seorang Waliyullah ahli Thariqah Syaththariyah, penyebar dan peletak dasar ajaran Islam yang berhaluan faham Ahlus Sunnah Wal Jamaah di daerah Ngelom Sepanjang dan sekitarnya, Beliau juga The Founding Father (Mu’assis) Pondok Pesantren Salafiyah Bahauddin Ngelom Taman Sepanjang Sidoarjo.
                  Dalam tubuh Raden Ali mengalir darah  keturunan Kiangeng Selo atau Abdurrahman Al Masyhur  Bi Waliyyin  fi  Kullil  Balad (yang  dikenal oleh banyak orang disetiap negeri sebagai Waliyullah). Raden Ali dilahirkan dari seorang Ayah bernama Raden Mas Pangeran Kerthoyudo putra Sultan Agung Dipura, Ibunda Beliau bernama Raden Ayu Ibu, putri Raden Mas Kantri atau yang lebih dikenal dengan sebutan Raden Mas Umbul Suwelas putra dari Al Karomah Al Akbar Al Khoir Ahmad atau yang lebih dikenal dengan sebutan Raden Ronggo, Sultan Ngaloga.
                  Perjalanan hidupnya, semenjak kecil Raden Ali telah menjadi seorang anak yatim piatu. Ayahandanya Raden Mas Pangeran Kerthoyuda telah meninggal dunia ketika beliau masih berumur sepuluh bulan berada dalam kandungan Ibundanya. Kemudian ketika usia kandungan Sang Ibunda telah berumur sebelas bulan ia terlahir kedunia, namun tak lama kemudian sang Ibunda pun juga pergi menghadap Allahu Rabbul Izzati, sang Maha Kekal Abadi, meninggalkan Raden Ali kecil yang masih berumur satu bulan.
                  Hari demi hari terlewati, Raden Ali kecil tumbuh tanpa pernah menikmati damainya ayunan gendongan wanita yang telah melahirkannya, tak pernah mendengar merdunya dendang nina bobo sang Ibunda tercinta, juga tak pernah merasakan belai lembut tangan sang Ayahanda yang penuh kasih sayang mengusap kepalanya. Raden Ali kecil terus tumbuh menjadi dewasa, hidup dalam keprihatinan yang tak semestinya beliau alami  sebagai  seorang  keturunan  darah  biru, layaknya para putra bangsawan, keturunan  ningrat. Namun kenestapaan dan kepedihan hidup  yang dialami Raden Ali tidaklah membuat Raden Ali terpaku dalam keputus-asaan yang maha panjang, atau tersesat kejalan yang hitam yang tidak diridloi Allah SWT. Beliau tetap tegar dalam kesederhanaan, teguh memegang aqidah, tabah menjalani kehidupan, sabar menjalankan kewajiban sebagai hamba. (sabar adalah kunci segala kesuksesan, sabar dalam musibah adalah pakaian Nabi Ayyub, Sabar dalam ketaatan adalah hiasan Nabi Ibrahim, Sabar dalam menolak kemaksiyatan adalah mahkota Nabi Yusuf, Ketidak sabaran adalah yang mengakibatkan perpisahan antara Musa dan Khidir, Ketidak sabaran adalah penyebab kekalahan kaum muslimin dalam Uhud, Ketidak sabaran adalah penyebab berbagai kebaikan lepas dari genggaman).
              

                  Seiring terus berjalannya waktu, Raden Ali kecil terus tumbuh dewasa. Dalam pertumbuhannya, beliau telah berhasil memadukan beberapa aspek kepribadian dalam kehidupannya, kesederhanaan, keteguhan, kearifan, ketaqwaan, kreatifitas, kesabaran, tawakkal, zuhud, wara’, qana’ah, tawaddlu’ telah membentuk pribadi beliau menjadi sosok Raden Ali dewasa yang tegar, yang sehingga layaklah beliau disebut sebagai Khalifatullah Fil Ardl, mandataris Allah dimuka bumi ini.
Konon diceritakan, bahwa kebesaran nama Mbah Raden Ali telah banyak mengundang kedatangan para santri dari pelosok penjuru pulau Jawa untuk ngangsu kaweruh agama (menimba ilmu agama) pada Mbah Raden Ali, mulai dari Banten, Cirebon, serta masyarakat sekitar Sidoarjo-Surabaya, bahkan sampai Madura. Sayang, kebesaran nama beliau, tak ada satu pun sejarah yang mencatatnya, mencatat sejarah seorang tokoh Ulama besar sekaligus Waliyullah yang mempunyai banyak kelebihan atau karomah yang tidak banyak dimiliki oleh manusia biasa pada umumnya.
                  Diantara Keanehan atau kalaulah boleh disebut sebagai karomah Mbah Raden Ali adalah, konon bila seseorang memasuki perkampungan Ngelom Pesantren dengan kendaraannya, kuda umpamanya sebagai salah satu kendaraan waktu itu, atau sepeda, atau sepeda motor, yang dengan sambil dikendarai atau ditunggangi, bukan turun dari kendaraan dan  menuntunnya  menyusuri  jalan,  maka yang terjadi, pantat sang penunggang atau pengendara akan terus lengket dan melekat di tempat duduk kendaraannya, dan tidak akan pernah bisa dilepaskan sampai ia meminta maaf pada Mbah Raden Ali.
                  Sepenggal kisah yang lain juga pernah menceritakan, bahwa setiap kali ada rombongan kesenian yang melewati daerah Ngelom Pesantren yang sambil membunyikan suara musik tabuhan gamelan atau semacamnya, ketika sudah memasuki daerah Ngelom Pesantren, maka semua alat musiknya tidak dapat mengeluarkan bunyi-bunyian atau suara ketika ditabuh atau dibunyikan, sampai rombongan itu benar-benar keluar dari daerah atau wilayah Ngelom Pesantren.
                  Ada lagi kisah yang lain, diantara salah satu putra Raden Ali adalah yang bernama Jaya Ulama, yang dikenal pada masa mudanya sebagai berandal yang sering kali merampok setiap pedagang atau saudagar yang melewati wilayah sepanjang dan sekitarnya. Berita tentang sikap berandal yang dimiliki Jaya Ulama, lambat laun akhirnya terdengar juga ditelinga Raden Ali. Kemudian dengan diam-diam Raden Ali menyusun sebuah rencana penyamaran sebagai saudagar yang melewati daerah Ngelom Sepanjang dengan membawa pedati yang berisi tumpukan lantakan emas dan berlian yang entah didapatkan dari mana oleh Raden Ali waktu itu. Selanjutnya, sesuai dengan rencana, ketika Raden Ali yang kala itu dengan memakai cadar penutup muka bersama dengan pedati yang membawa lantakan emas serta berlian melewati daerah Ngelom Sepanjang, pedati itupun dicegat dan direbut paksa oleh Jaya Ulama. Namun tidak dengan mudahnya begitu saja Raden Ali menyerahkan harta bawaannya kepada Jaya Ulama. Akhirnya terjadilah perkelahian diantara mereka, yang kemudian sebuah tebasan pedang Jaya Ulama mengenai tubuh Raden Ali. Bukan karna Raden Ali kalah oleh Jaya Ulama, tapi memang sengaja hal itu dilakukan oleh Raden Ali. Dan ketika tebasan pedang Jaya Ulama berbenturan dengan tubuh Raden Ali, terlihatlah seperti sebuah kilatan cahaya memancar dari tubuh Raden Ali. Namun perkelahian terus berlanjut, sampai pada akhirnya disuatu kesempatan dalam perkelahian itu, dibiarkannya tangan Jaya Ulama meraih dan menarik cadar penutup muka Raden Ali. Kaget setelah tahu bahwa yang berhadapan dengannya adalah Raden Ali Ayahandanya, Jaya Ulama kemudian duduk bersimpuh, memohon ampun pada Ayahandanya dan bertaubat dari segala prilakunya yang tidak baik, yang merugikan diri sendiri dan orang lain.
                  Karomah beliau yang lain (ba’dal mamat) yang sering tampak adalah, seringkali bagi para peziarah makam Mbah Raden Ali (walau tidak semua peziarah), ketika mereka sedang berziarah di waktu malam hari, mereka seringkali dapat melihat macan putih atau kuda putih disekitar makam beliau (macan putih dan kuda putih adalah symbol kebesaran, keperkasaan dan kemulyaan para Wali Allah). Konon juga sering di ceritakan manakala ada burung pipit atau burung lainnya yang terbang dan tiba-tiba melintas diatas makam beliau, pasti akan jatuh dan mati terkapar diatas tanah.


SILSILAH
MBAH RADEN ALI
PEMBUKA/BABAT TANAH
NGELOM PESANTREN
                  Menurut catatan Kyai Imam bin Idris bin Muhammad bin Abu Hasan, dan beberapa catatan para sesepuh Ngelom Pesantren, asal usul silsilah Mbah Raden Ali adalah sebagai berikut :
1.      Abdurrahman (Al Karomah Al Masyhur bi Waliyyin fi kullil Balad).
Menurut beberapa sumber dari catatan silsilah raja-raja Mataram, Abdurrahman disini adalah Kiageng Selo. Dan menurut  catatan Para leluhur Ngelom Pesantren Abdurrahman atau Kiageng Selo adalah juga Abdurrahman Assegaf Al Karomah Al Masyhur bi Waliyyil Quthbi fi kullil Balad. Sedangkan Kebenarannya adalah Wallohu a’lamu biha.
Beliau menurunkan :
2.      Abdullah
Beliau menurunkan :
3.      Raden Mas Salim
(Al Masyhur Raden Mas Salim Pemanahan)
Alkisah, beliau mengabdikan diri di kesultanan Pajang sebagai Lurah Tamtama.
Beliau menurunkan :
4.      Al Kabir Al Khoir Al Aziz Abi Bakar
(Al Masyhur Raden Mas Ngabehi/ Senopati Sutawijaya / Sultan Mataram).
Alkisah, beliau diangkat putra oleh Sultan Hadiwijaya, Sultan Pajang, dan kemudian pada akhirnya diambil menantu oleh Sultan Hadiwijaya.
Wafat dimakamkan di Imogiri Yogyakarta
Beliau menurunkan :
a.     Sultan Krapyak (Al Masyhur Raden Julang)
b.    Al Karomah Al Akbar Al Khoir Ahmad
      (Al Masyhur Raden  Ronggo/Sultan Ngaloga).  
      Beliau menurunkan :
Husein (Al Masyhur Sultan Amangkurat I Kertasura). Wafat dimakam kan di Tegal Arum Pekalongan.
Beliau menurunkan :
1.      Hamzah (Al Masyhur Pangeran Puger)    
2.      Sunan Amangkurat (Al Masyhur Sultan Amangkurat  II).
Beliau menurunkan :
Pangeran Amangkurat Mas (Al Masyhur Sultan Amangkurat  III)
Alkisah, oleh karena Pangeran Amangkurat Mas (Sultan Amangkurat III) tiba tiba menghilang tidak diketahui kemana perginya maka kesultanan Mataram digantikan oleh paman beliau yaitu Sayyid Syarif Hamzah (Al Masyhur Pangeran Puger) yang kemudian bergelar Pangeran Hamengku Buwono yang pertama.
3.   Raden Ayu Samilah.
5.   Sultan Krapyak (Al Masyhur Raden Julang).
      Beliau menurunkan :
6.   Sultan Agung Purbaya
      Beliau menurunkan :
7.   Pangeran Jurunata Purbaya
Al kisah, Pangeran Jurunata Purbaya diambil menantu oleh Sunan Amangkurat Mas, diperistrikan putri beliau yang bernama Raden Ayu Samilah.
      Beliau menurunkan :
8.   Sultan Agung Dipura
      Beliau menurunkan :
a.      Raden Mas Pangeran Kerthonadi
Menurunkan Raden Ayu Robi’ah yang kemudian diperistri Seorang Cina beragama Islam bernama Baba Teksu
b.      Raden Mas Pangeran Kerthoyuda
c.       Raden Ayu Kendung
9.      Raden Mas Pengeran Kerthoyuda.
Wafat dimakamkan di Sekar Kenongo.
Raden Mas Pangeran Kerthoyuda adalah seorang Ahli Thoriqoh Saththoriyah yang suka mengembara. Beliau merantau ke desa Suropringgo (sekarang Surabaya) dengan berjalan kaki, diceritakan bahwa karna begitu lama dan jauhnya perjalanan yang ditempuh, jarit/sarung yang dipakai oleh Raden Mas Pangeran Kerthoyuda hingga robek dan compang-camping. Kemudian setelah sampai di Suropringgo tepatnya didesa lempuyangan, beliau berhenti dan bertamu ke rumah Raden Mas Kantri (Al Masyhur Raden Mas Umbul Suwelas putra dari Raden Mas Ronggo Alkaromah Al Akbar Al Khoir Ahmad/Sultan Ngaloga), yang diberi kekuasaan untuk mengatur pemerintahan di daerah Suropringgo (Surabaya) bersama sebelas rekan beliau.
                  Kemudian Sesampainya Raden Mas Pangeran Kerthoyudo berada dan bertamu di rumah Raden Mas Umbul Suwelas, terjadilah percakapan diantara beliau yang pada saat itu belum saling mengenal. Raden Mas Umbul bertanya : “ Siapakah kisanak ini ? dan Siapakah leluhur kisanak, kok datang kemari tanpa ada yang menemani ?”. Jawab Raden Mas Pangeran Kerthoyuda memperkenalkan diri,“Kulo (saya)  adalah Mas  Pangeran Kerthoyudo, putra Pangeran Agung Dipura”. Mendengar itu, Raden Mas Umbul merasa bahagia karna bisa bertemu dengan kerabatnya di daerah rantau : “Duh Sanak kadang, Saya adalah keturunan Senopati Ngaloga, Ramanda  adalah  Raden  Ronggo Sultan  Mentawis (Mataram). Saya beserta Sebelas rekan saya ditugaskan oleh Ramanda untuk mengatur pemerintahan di daerah Surabaya, dan kebetulan saya adalah yang bertanggung jawab didaerah dalam Kota Suropringgo (Surabaya)  ini”.
Singkat kata, di akhir pembicaraan, Raden Mas Umbul meminta kepada Raden Mas Pangeran Kerthoyudo agar berkenan menikahi putri ragil beliau yang bernama Raden Ayu Ibu., yang pada saat itu berumur sembilan belas tahun. Menjawab akan permintaan Raden Mas Umbul, Raden Mas Pangeran Kerthoyudo berkata : “Jika itu adalah kehendak dan dapat membahagiakan sampeyan, saya ikut kehendak sampeyan saja”.
            Maka pada tanggal 11 bulan Robi’ul Akhir di tahun Dal Raden Mas Pangeran Kerthoyudo menikah  dengan  Raden  Ayu Ibu,  putri  dari  Raden Mas Umbul/Raden Mas Kantri.
Seiring berjalannya waktu, setelah Raden Mas Pangeran Kerthoyudo menikah dengan Raden Ayu Ibu, ternyata lambat laun Raden Mas Pangeran Kerthoyudo mengalami ketidak cocokan dengan mertua beliau, yang pada akhirnya menyebabkan Raden Mas Pangeran Kerthoyudo berkeinginan untuk pergi mengembara lagi bersama istrinya.
                  Dalam pengembaraannya, beliau menuju keutara-selatan, yang akhirnya Raden Mas Pangeran Kerthoyudo bersama istrinya tiba di desa Semolo dan bertemu dengan seseorang yang pada saat itu sedang menuntun seekor sapi. Segera Raden Mas Pangeran Kerthoyudo bertanya : “Siapakah nama kisanak dan dimana Rumah Sampeyan ?” Sang penuntun sapi menjawab : “Nama saya Gibah,  rumah saya  berada di dusun Prapen”. Raden Mas Pangeran Kerthoyudo melanjutkan bicaranya : “kalau begitu saya mau tutwuri (ikut)  sampeyan  saja,  saya  sudah  sangat lelah, barangkali sampeyan punya air sekedar untuk saya minum”. Walhasil Raden Mas Pangeran Kerthoyudo dan istrinya dipersilahkan oleh Kyai Gibah datang ke rumah beliau untuk makan dan minum seadanya.
           Setelah makan dan minum, Raden Mas Pangeran Kerthoyudo dan Kyai Gibah kemudian bercakap-cakap kembali, saling memperkenalkan diri lebih jauh. Dalam percakapan tersebut akhirnya Kyai Gibah meminta kepada Raden Mas Pangeran Kerthoyudo untuk menetap di rumahnya, “Sampean (Raden Mas Pangeran Kerthoyudo) jangan pergi kemana-mana, tinggal saja dirumah saya bila Sampeyan berkenan dan kerasan, saya ingin sampeyan mengajarkan ilmu agama kepada saya, sebab saya  senang dan  bahagia sekali bisa dekat dan memperdalam ilmu ibadah pada sampeyan” kata Kyai Gibah pada Raden Mas Pangeran Kerthoyuda.
   Selanjutnya, menetaplah Raden Mas Pangeran Kerthoyudo bersama istrinya di dusun prapen, tepatnya di rumah Kyai Gibah, sambil mengajarkan ilmu agama islam dan dzikir Thariqoh Syaththariyah kepada Kyai Gibah dan istrinya.
            Waktu terus berjalan, akhirnya istri Raden Mas Pangeran Kerthoyudo (Raden Ayu Ibu) mengandung putra pertamanya. Dan ketika kandungan Raden Ayu Ibu telah berumur sekitar sepuluh bulan, Raden Mas Pangeran Kerthoyudo berkeinginan untuk sambang ke negeri Kertasura (itupun  setelah  meminta  persetujuan  dari  istri  beliau untuk ditinggal di dusun prapen di rumah Kyai Gibah). Kepada Kyai Gibah beliau menitipkan istrinya selama ditinggal sementara waktu, “mungkin sekitar enam puluh hari saya sudah kembali lagi di dusun Prapen” kata Raden Mas Pangeran Kerthoyudo kepada Kyai Gibah. “Inggih, dido’akan saja, Mudah-mudahan saya diberikan kekuatan dan kesehatan dalam menjaga dan ngopeni (menghidupi) istri  Raden  Mas”, begitu jawab Kyai Gibah. Raden Mas Pangeran Kerthoyudo juga berpesan kepada Kyai Gibah : “Apabila suatu saat istri saya melahirkan anak laki-laki, maka berilah nama Raden Ali, dan jika bayi yang dilahirkan adalah perempuan maka terserah sampeyan untuk memberi nama”.
              Sepeninggal Raden Mas Pangeran Kerthoyudo, Raden Ayu Ibu merasa  hari-harinya gundah gulana, kesepian karna ditinggal suami tercintanya pulang ke negeri Kertasura.
              Sementara itu, setelah Raden Mas Pangeran Kerthoyudo telah sampai di Kertasura, tak lama kemudian beliau meninggal dunia di sana, dan kemudian dimakamkan di dusun Sekar Kenongo.
   Sementara itu pula, ketika kandungan Raden Ayu Ibu telah berumur sekitar sebelas bulan, beliau melahirkan seorang putra laki-laki yang kemudian diberi nama Raden Ali, seperti yang telah diamanatkan oleh Raden Mas Pangeran Kerthoyudo kepada istri tercintanya dan Kyai Gibah.
10. Raden Ali (Al Masyhur Mbah Raden Ali)
Wafat dimakamkan di Ngelom Pesantren Taman Sepanjang.

            Alkisah, Ketika Raden Ali kecil menginjak umur satu bulan, Raden Ayu Ibu meninggal dunia. Kemudian Raden Ali kecil diasuh oleh Kyai Gibah dan  istrinya. Saat mengasuh  Raden  Ali  kecil,  Kyai Gibah bersama istrinya senantiasa merasa bahagia, terlebih sejak kecil Raden Ali tidak pernah mengalami sakit-sakitan. Pun juga, Kyai Gibah merasa ada yang istimewa ketika mengasuh Raden Ali kecil, tanaman mentimunnya    selalu   panen    dengan   hasil    yang melimpah, rizkinya pun semakin hari semakin bertambah banyak pula.
            Semenjak kecil Raden Ali telah memiliki sifat menjauhi cinta dunyo brono (harta dunia). Kemudian setelah Raden Ali beranjak dewasa beliau melakukan puasa riyadloh, dan berkhalwat di dusun Bendul Surabaya. Tiap hari beliau tidak banyak merasakan tidur, tidak pula banyak makan. Hari-hari beliau jalani dengan berpuasa. Kalaupun beliau harus tidur, beliau tidur diatas rakitan bambu berbantal kayu. 
            Suatu ketika, saat Raden Ali telah berkeluarga namun masih belum dikaruniai putra, beliau mempunyai seorang santri (murid) yang bernama Jamal, yang diberi tugas oleh beliau untuk merawat dan menanam berbagai tanaman palawija di tanah milik Raden Ali, seperti cabe, terong, kerai, dan kacang kacangan. Namun anehnya, ketika tanaman tersebut telah masak dan siap untuk dipetik, justru beliau diperintah oleh Raden Ali untuk segera mengumumkan kepada warga masyarakat, barang siapa yang berkenan dan menghendaki hasil tanamannya agar memetik sendiri.
            Selanjutnya Raden Ali menetap  dan mendirikan pesantren di dusun Ngelom Sepanjang Taman Sidoarjo (sebuah kawasan atau daerah yang waktu itu berada dalam kekuasaan Adipati Jenggala), yang kemudian pada perkembangannya, akhirnya   Ngelom dikenal sebagai pusat awal perkembangan Islam di daerah Sekitarnya. Raden Ali wafat dan dimakamkan di dusun Ngelom Pesantren, kecamatan Taman  Sepanjang.  Dan   dari  seorang   istri, Mbah Raden Ali menurunkan 7 keturunan, 4 putra dan 3 putri  : 
1.      Bahauddin
Alkisah, ketika Bahauddin merantau, dalam rangka thalabul ilmi di kota Makkah Al Mukarramah, beliau meninggal dunia dan dimakamkan disana. Kemudian selanjutnya, untuk mengenang nama putra Mbah Raden Ali yang wafat di kota Makkah Al Mukarramah, maka masjid dan yayasan pondok pesantren di Ngelom diberi nama Bahauddin.
2.      Ahmad Rifa’i
Wafat dimakamkan di Ngelom Pesantren
3.      Abu Hasan
Wafat dimakamkan di Ngelom Pesantren
4.     Jaya Ulama
Alkisah, Jaya Ulama telah diberi izin oleh  Adipati Suropringgo  pada waktu itu, untuk mengajar ilmu agama di kota Suropringgo (Surabaya). Jaya Ulama mempunyai  seorang  putra  bernama  Mas  Ngabehi  Sumo  Direjo  yang  kemudian  diangkat menjadi adipati  di  kota  Suropringgo  (Surabaya) dikemudian hari. Jaya Ulama wafat dimakamkan didesa Wonocolo sepanjang.
5.      Sanifah
Wafat dimakamkan di Ngelom Pesantren
6.      Talbiyah
Wafat dimakamkan di Ngelom Pesantren
7.      Sahinah
Wafat dimakamkan di Ngelom Pesantren
Lokasi Kompleks
Makam Mbah Raden Ali
            Kullu Nafsin Dza’iqotul Maut, setiap yang bernafas pasti akan mengalami sesuatu yang disebut kematian. Tak ada satu pun di dunia ini yang akan kekal abadi. Bagi para Pendosa Musyrikin, kematian adalah pintu menuju siksa dan pesakitan abadi. Tapi sebaliknya, kematian bagi para Waliyullah adalah pintu yang mengantarkankannya menuju ruang kebahagiaan dan kedamaian yang hakiky serta abadi. Kematian bagi para Wali Allah adalah satu-satunya jalan untuk mengobati kerinduan perjumpaan    dengan Sang   Maha   Kasih.  Dan apakah ada yang dapat menandingi kenikmatan dan kebahagiaan bagi sang pecinta yang    memendam kerinduan selain berjumpa dengan sang kekasih, Allohu Rabbul Izzati ?. Karenanya, di bibir mereka selalu terlukis senyuman, manakala kematian menjemputnya. Tapi tidak bagi yang ditinggalkan, hujan air mata, dan duka karna ditinggalkan, pasti akan terasa menyesakkan dada. Mbah Raden Ali telah tiada, meninggalkan kita semua.
Tak ada satu catatan pun ditemukan yang menulis cerita tentang tahun, bulan, tanggal dan hari wafat Mbah Raden Ali. Akan tetapi dapat diketahui dari berita turun temurun yang disampaikan dari  mulut  ke mulut yang menyatakan bahwa Mbah Raden Ali meninggal  pada   bulan   Sya’ban    hari    ke    ketujuh  belas. Sedangkan mengenai tahun wafat beliau, informasi yang diterima oleh penulis dari beberapa orang, ternyata banyak terjadi perbedaan pendapat, yang semuanya tidak bisa dipertanggung jawabkan akurasi kebenarannya.
Jenazah Mbah Raden Ali di semayamkan di Kompleks pemakaman keluarga, di desa Ngelom Pesantren Kecamatan Taman Kabupaten Sidoarjo, tepatnya berada di sebelah selatan    Masjid   Bahauddin,   depan    Madrasah
Aliyah Bahauddin Ngelom.
                  Adapun akses jalan menuju pemakaman Mbah Raden Ali tidaklah banyak ditemukan kesulitan. Sebab Ngelom Pesantren adalah desa yang dilewati oleh jalan protokol yang menghubungkan antara Surabaya-Sepanjang, atau Sepanjang-Sidoarjo.
 
Sumber: http://darulmutaallimin1.blogspot.com/2012/05/sekilas-tentang-mbah-raden-ali-ngelom.html
Posted in by El-Huda Minggu, Januari 27, 2013 No comments

0 komentar:

Poskan Komentar

Forum Diskusi

Bookmark Us

Delicious Digg Facebook Favorites More Stumbleupon Twitter

Search Our Site