Jumat, 09 Mei 2014

www.mediaelhuda.blogspot.com


من خرج في طلب العلم فهو في سبيل الله حتى يرجع
“Barangsiapa yang keluar untuk menuntut ilmu, maka dia di jalan Allah sampai dia kembali.” (HR. At-Tirmidzi). Sesungguhnya mendapatkan ilmu itu harus dengan didatangi. Jika ingin mendapatkan sesuatu yang berharga tentu kita akan rela mengeluarkan banyak harta untuk mendapatkannya.Apalagi untuk mendapatkan ilmu, para ulama rela berkorban jiwa raga dan harta bahkan meninggalkan sanak saudara selama berpuluh-puluh tahun untuk mendapatkan ilmu, warisan nabi.

Berkata Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullaah,

باب من العلم يتعلمه الرجل خير له من الدنيا وما فيها

“Satu bab dari ilmu yang dipelajari oleh seseorang itu lebih baik daripada dunia dan seluruh isinya.” [1]

Al-Imam Al-Hakim memberikan gambaran tentang orang yang menempuh jalan untuk mencari ilmu,

آثروا قطع المفاوز والقفاز على التنعم في الدمن والأوطان، وتنعموا بالبؤس في الأسفار مع مساكنة أهل العلم والأخبار، جعلوا المساجد بيوتهم، وجعلوا غذاءهم الكتابة، وسمرهم المعارضة، استرواحهم المذاكرة، وخلوقهم المداد، ونومهم السهاد، وتوسدهم الحصى

“Mereka lebih memilih untuk menempuh padang gurun dan tanah kosong daripada bersenang-senang di tempat tinggal dan negeri mereka. Mereka merasakan kenikmatan dalam kesengsaraan di dalam perjalanan bersama dengan ahli ilmu dan riwayat. Mereka jadikan masjid-masjid sebagai rumah mereka. Mereka jadikan menulis sebagai makanan kesehariannya. Mencocokkan tulisan sebagai percakapan di waktu malam. Mengulang pelajaran sebagai istirahat mereka. Tinta sebagai parfum mereka. Begadang sebagai tidur mereka. Dan kerikil sebagai bantal mereka.” [2]

وقد قيل للإمام أحمد: أيرحل الرجل في طلب العلم؟ فقال: بلى والله شديداً، لقد كان علقمة بن قيس النخعي والأسود بن يزيد النخعي وهما من أهل الكوفة، كانا إذا بلغهما الحديث عن عمر رضي الله عنه لم يقنعا حتى يرحلا إلى المدينة فيسمعا الحديث منه

Dan ditanyakan kepada Al-Imam Ahmad, “Apakah diharuskan seseorang bepergian untuk mencari ilmu?” Maka beliau menjawab, “Tentu saja, demi Allah sangat diharuskan. Sungguh ‘Alqamah bin Qais An-Nakha’i dan Al-Aswad bin Yazid An-Nakha’i mereka berdua berasal dari Kufah (di Iraq). Apabila telah sampai kepada mereka sebuah hadits dari ‘Umar radhiallaahu ‘anhu, mereka tidak akan puas sampai melakukan perjalanan ke kota Madinah dan mendengarkan langsung hadits tersebut dari beliau.”

Para ulama dalam mencari ilmu tidaklah dalam waktu yang singkat, cuma satu atau dua hari saja. Bahkan berbulan-bulan, bertahun-tahun, sampai puluhan tahun. Tentu di dalam perjalanan pun banyak gangguan dan rintangan yang harus dihadapi, rasa lapar dan haus, kesusahan, kesengsaraan, dan bahaya-bahaya lain yang mengancam jiwa.

فقد رحل الإمام أبو عبد الله محمد بن إسحاق بن منده لطلب العلم وعمره عشرون سنة، ورجع إلى بلده وعمره خمسة وستون عاماً، وكانت مدة رحلته خمسة وأربعين عاماً، وسمع فيها العلم وتلقاه عن ألف وسبعمائة شيخ، فلما رجع إلى بلده تزوج وهو ابن خمسة وستين عاماً، ورزق الأولاد، وحدث الناس وعلمهم

Al-Imam Abu Abdillah Muhammad bin Ishaq bin Mandah pergi melakukan perjalanan untuk mencari ilmu pada saat umur beliau masih 20 tahun. Beliau kembali ke negerinya ketika sudah berumur 65 tahun. Berarti beliau melakukan perjalanan mencari ilmu selama 45 tahun. Pada waktu tersebut beliau mendengarkan ilmu dan mengambilnya dari 1700 syaikh. Kemudian beliau kembali ke negerinya dan menikah pada usia 65 tahun dan dikaruniai beberapa anak. Kemudian beliau menyampaikan hadits kepada manusia dan mengajarkannya. [3]

Al-Imam Adz-Dzahabi mengisahkan tentang Baqi bin Makhlad,

أما بقي بن مخلد فقد قام برحلتين إلى الشام والحجاز؛ الأولى استغرقت أربعة عشر عاماً والثانية استمرت عشرين عاماً، وكلها كانت على الأقدام ماشياً كما صرح هو بذلك حيث قال: كل من رحلت إليه فماشياً على قدمي

“Baqi bin Makhlad melakukan perjalanan dua kali di negeri Syam dan Hijaz; yang pertama memakan waktu 14 tahun, dan yang kedua hingga 20 tahun, semuanya ditempuh dengan berjalan kaki. Sebagaimana yang dia ceritakan sendiri, ‘Setiap orang yang aku pergi kepadanya maka semuanya dengan berjalan dengan kedua kakiku.’”[4]

Dikisahkan, Abdullah bin Al-Qasim Al-’Ataki Al-Mishri berkeinginan untuk melakukan perjalanan dari Kairo menuju Madinah untuk mencari ilmu kepada Imam Malik. Sedangkan istri Abdullah dalam keadaan hamil. Maka beliau berkata kepada istrinya,

إني قد عزمت على الرحلة في طلب العلم، وما أراني عائداً إلى مصر إلا بعد مدة طويلة، فإن شئت أن أطلقك طلقتك فتنكحين من شئت، وإن أردت أبقيك في عصمتي فعلت ولكن لا أدري متى سأرجع إليك

“Sesungguhnya aku ingin sekali melakukan perjalanan untuk mencari ilmu. Aku mengira tidak akan kembali ke Mesir kecuali dalam waktu yang lama. Jika engkau ingin aku menceraikanmu maka aku akan menceraikanmu dan engkau bisa menikah lagi dengan orang yang kamu kehendaki. Jika engkau ingin tetap berada dalam tanggung jawabku maka akan aku lakukan. Akan tetapi aku tidak tahu kapan bisa kembali lagi kepadamu.”

Istrinya memilih untuk tetap bertahan dan menjadi istrinya. Maka berangkatlah Abdullah bin Al-Qasim ke tempat Imam Malik. Dia berada di sana selama 17 tahun bersama Imam Malik dan tidak melakukan jual beli. Pikirannya tercurah untuk menuntut ilmu. Saat ini, istrinya telah melahirkan seorang anak lelaki dan telah tumbuh dewasa. Abdullah bin Al-Qasim tidak mengetahui kabar tentang kelahiran anaknya dikarenakan berita tentang istrinya telah terputus semenjak dia meninggalkan istrinya. Berkata Abdullah bin Al-Qasim,

فبينا أنا ذات يوم عند مالك في مجلسه، إذ أقبل علينا حاج مصري شاب ملثم فسلم على مالك ثم قال: أفيكم ابن القاسم؟ فأشاروا إلي، فأقبل علي يعتنقني ويقبل ما بين عيني، ووجدت منه رائحة الولد، فإذا هو ابني الذي تركت زوجتي حاملاً به وقد شب وكبر

“Suatu saat aku sedang berada di majelisnya Imam Malik. Tiba-tiba datang kepada kami jama’ah haji dari Mesir yang masih muda dengan menutup mukanya kemudian mengucapkan salam kepada Imam Malik dan berkata, ‘Adakah di antara kalian yang bernama Ibnu Al-Qasim?’ Maka mereka menunjuk kepadaku. Lalu dia datang kepadaku, memelukku, dan mencium keningku. Aku mencium bau anak darinya. Ternyata dia adalah anakku yang dulu telah aku tinggalkan bersama istriku dalam keadaan hamil dan sekarang sudah tumbuh besar.”

Al-Khatib Al-Baghdadi menjelaskan tentang Al-Imam Al-Bukhari,

والإمام البخاري رحل إلى محـدثي الأمصـار، وكـتب بخراسان والجبال ومدن العراق كلها والحجاز والشام ومصر، وورد بغداد دفعات

“Al-Imam Al-Bukhari pergi ke banyak ahli hadits di berbagai negeri. Menulis hadits di Khurasan, di gunung-gunung dan kota-kota di Iraq semuanya, di Hijaz, di Syam, dan di Mesir. Datang ke Baghdad beberapa kali.” [5]

Al-Imam Al-Bukhari menceritakan tentang dirinya,

كتبت عن ألف شيخ من العلماء وزيادة، وليس عندي حديث إلا أذكر إسناده

“Aku telah menulis lebih dari seribu syaikh dari kalangan ulama. Dan tidaklah aku memiliki satu hadits pun kecuali aku sebutkan sanadnya.” [6]

Sejarah telah mencatat begitu besarnya kesungguhan para ulama dalam mencari ilmu. Perjuangan yang tak kenal lelah di antara panasnya sengatan terik matahari dan dahsyatnya musim dingin, sampai pun mereka mengorbankan raganya. Sempitnya kehidupan dan susahnya dalam menempuh perjalanan.

Al-Imam Adz-Dzahabi mengisahkan tentang perjalanan ‘Umar bin ‘Abdul Karim Ar-Rawasidalam mencari ilmu,

ورحل عمر بن عبد الكريم الرواسي في طلب العلم، وسمع العلم من ثلاثة آلاف وستمائة شيخ، وفي إحدى رحلاته سقطت بعض أصابعه من شدة البرد والثلج، ولم يكن معه آنذاك ما يتدفأ به

‘Umar bin ‘Abdul Karim Ar-Rawasi melakukan perjalanan untuk mencari ilmu dan mendengarkan ilmu dari 3.600 syaikh. Pada suatu perjalanan, sebagian jari-jemarinya rontok dikarenakan cuaca yang sangat dingin dan bersalju. Sedangkan tidak ada sesuatu pun padanya untuk menghangatkan badan. [7]

Al-Imam Al-Hafizh Muhammad bin Thahir Al-Maqdisi menceritakan tentang kisahnya dalam mencari ilmu,

بلت الدم في طلبي للحديث مرتين: مرة ببغداد ومرة بمكة؛ وذلك أني كنت أمشي حافياً في سفري لطلب العلم في شدة الحر وعلى الرمضاء المحرقة، فأثر ذلك في جسدي فبلت دماً، وما ركبت دابة قط في طلب الحديث إلا مرة واحدة، وكنت دائماً أحمل كتبي على ظهري في أثناء سفري، حتى استوطنت البلاد وما سألت في حال طلبي للعلم أحداً من الناس مالاً، وكنت أعيش على ما يأتيني الله به من رزق من غير سؤال

“Aku mengalami kencing darah ketika sedang mencari hadits dua kali; sekali di Baghdad dan sekali di Makkah. Hal itu disebabkan aku berjalan tanpa menggunakan alas kaki dalam perjalananku mencari ilmu di cuaca yang sangat panas di atas gurun yang membakar.  Maka hal itu mempengaruhi tubuhku sehingga aku kencing darah. Aku tidak pernah sama sekali menggunakan kendaraan untuk mencari hadits kecuali hanya sekali saja. Aku selalu membawa kitab-kitabku dia atas punggung di dalam menempuh perjalanan sampai suatu negeri. Aku tidak pernah meminta harta kepada seorang pun ketika mencari ilmu. Aku hidup atas rizki yang diberikan oleh Allah kepadaku tanpa meminta-minta.” [8]

وكابدوا المجد حتى ملَّ أكثرُهُم *** وعانق المجد من أوفى ومن صبرا
لا تحسبن المجد تمراً أنت آكله *** لن تبلغ المجد حتى تَلْعَقَ الصَـبِرَا

Mereka menahan derita hingga merasa bosan kebanyakan mereka
Kemuliaan akan memeluk orang yang tetap setia dan bersabar
Janganlah kamu anggap kemuliaan itu kurma yang kamu makan
Kamu tidak akan mencapai kemuliaan hingga menjilat kesabaran

Al-Imam Ibnu Katsir meriwayatkan,

وقال أحمد بن سنان الواسطي: بلغني أن أحمد بن حنبل رهن نعله عند خباز على طعام أخذه منه، عند خروجه من اليمن. وسرقت ثيابه وهو باليمن، فجلس في بيته ورد عليه الباب، وفقده أصحابه، فجاءوا إليه فسألوه فأخبرهم، فعرضوا عليه ذهباً فلم يقبله، ولم يأخذ منهم إلا ديناراً واحداً، ليكتب لهم به ـ أي أخذ الدينار على أن يكون أجرة لما ينسخه لهم من الكتب ـ فكتب لهم بالأجر، رحمه الله تعالى

Ahmad bin Sinan Al-Wasithi berkata, “Telah sampai kepadaku berita bahwa Ahmad bin Hanbal menggadaikan sandalnya kepada seorang penjual roti karena makanan yang diambil ketika keluar dari Yaman. Baju-bajunya dicuri ketika sedang di Yaman. Maka dia duduk di dalam rumahnya dan menutup pintunya. Sahabat-sahabatnya merasa kehilangan. Maka mereka pun mendatanginya dan bertanya kepadanya, maka dia menceritakan keadaannya. Mereka menawarkan emas akan tetapi dia menolaknya. Dia tidak menerima dari mereka kecuali satu dirham sebagai upah menulis untuk mereka. Maksudnya dia mengambil dinar sebagai upah menuliskan kitab untuk mereka. Maka dia menulis untuk mereka dan mendapat upah. Semoga Allah Ta’ala selalu merahmatinya. [9]

Muhammad bin Abi Hatim bercerita,

خرجت إلى آدم بن أبي إياس، فتخلفت عني نفقتي حتى جعلت أتناول الحشيش ولا أخبر بذلك أحداً، فلما كان اليوم الثالث أتاني آت لم أعرفه فناولني صرة دنانير، وقال: أنفق على نفسك

“Aku keluar untuk menemui Adam bin Abi Iyas. Perbekalanku datang terlambat sehingga aku terpaksa makan rumput. Dan aku tidak menceritakan hal itu kepada siapa pun. Setelah hari ketiga, seseorang yang tidak dikenal datang menemuiku kemudian memberikan kantong berisi beberapa dinar dan berkata, ‘Gunakanlah untuk keperluanmu.’” [10]

MasyaAllah, begitu mengagumkan ketegaran mereka dalam mencari ilmu. Dan apabila dikumpulkan kisah-kisah mereka semua, tentu tulisan ini tidak akan selesai. Keutamaan yang mereka miliki berupa perjuangan mencari ilmu telah menjadi sebab pertolongan Allah untuk agama ini, mereka menghafalkan ilmunya dan menyebarkannya kepada manusia. Karena tidaklah dinamakan ibadah itu jika tanpa ilmu, dengan ilmu syar’i mereka telah menjaga agama ini. Ibrahim bin Adham mengatakan,

إن الله يدفع البلاء عن هذه الأمة برحلة أهل الحديث

“Sesungguhnya Allah akan menghindarkan malapetaka dari umat ini dengan perjalanan yang dilakukan oleh ahli hadits.” [11]

Selain itu penjagaan mereka terhadap ilmu yang telah mereka dapatkan sungguh mengagumkan. Mereka gunakan waktu mereka sebaik-baiknya untuk menelah dan mengulang-ulang ilmu yang telah mereka dapatkan.

Al-Imam Ibnu Katsir mengatakan tentang keadaan Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah,

وهذا الإمام البخاري رحمه الله يستيقظ في الليلة الواحدة من نومه، فيوقد السراج ويكتب الفائدة تمر بخاطره، ثم يطفئ سراجه، ثم يقوم مرة أخرى وأخرى، حتى كان يتعدد ذلك منه في الليلة الواحدة قريباً من عشرين مرة

“Inilah Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah terjaga dalam tidurnya dalam satu malam. Kemudian menyalakan lentera dan menuliskan faedah yang terlintas dalam pikirannya kemudian memadamkan lenteranya. Setelah itu bangun kembali dan demikianlah seterusnya. Hingga hal itu beliau lakukan dalam satu malah hampir 20 kali.” [12]

Ibrahim An-Nakha’i berkata,

إنه ليطول علي الليل حتى ألقى أصحابي فأذاكرهم

“Sungguh terkadang malam terasa sangat panjang bagiku, maka aku menemui teman-temanku kemudian aku ajak mereka mengulang pelajaran.” [13]

Salah seorang dari salaf mengatakan,

سهري لتنقيح العـلوم ألذ لي *** من وصل غانية وطيب عـناق
وتمايلي طرباً لكـل عـويصة *** أشهى من النغمات للعـشاق
وألذ من نقـر الفـتاة لدفها *** نقري لألقي الرمل عن أوراقي
أأبيت سهران الدجى وتبيته *** نوماً وتبغي بعد ذاك لحـاقي؟

Begadangku untuk mengoreksi ilmu lebih nikmat bagiku
Daripada hubungan dengan wanita dan indahnya pelukan
Lenggak-lenggokku karena kebahagiaan untuk mengatasi sedikit kesulitan
Lebih aku sukai daripada nyanyian orang yang sedang kasmaran
Dan lebih nikmat dari tepukan gadis pada rebananya
Tepukanku untuk membuang pasir dari kertas-kertasku
Apakah aku yang begadang pada malam hari, sementara engkau semalaman
Hanya tidur, kemudian hendak menyusulku?

Apa tanggapan anda tentang perkataan di atas? Jujurlah pada masing-masing diri kita. Sungguh jauh dibandingkan mereka. Kita berangan-angan mendapatkan kemuliaan sedangkan pada hakekatnya kita enggan mengikuti jalan mereka. Maka jadikanlah hal ini sebagai lecutan penyemangat bagi kita.

Berapa pun umur kita, tidak ada kata terlambat untuk menuntut ilmu. Imam Ibnu Hazm baru belajar pada usia 26 tahun. Imam Al-Qofal baru belajar pada umur 40 tahun. Bahkan ada ulama yang belajar pada usia 80 tahun. Sungguh ini tidak ada alasan bagi kita untuk menjauh dari majelis ilmu. Pun juga alasan untuk menunda-nundanya. Sampai ajal menjemput kita.

Al-Imam Ahmad memberi teladan bagi kita,

قال محمد بن إسماعيل الصائغ: مر بنا أحمد بن حنبل ونعلاه في يديه وهو يركض في دروب بغداد ينتقل من حلقة لأخرى، فقام أبي وأخذ بمجامع ثوبه وقال له: يا أبا عبد الله! إلى متى تطلب العلم؟ قال: إلى الموت

Muhammad bin Isma’il Ash-Shaigh berkata, “Ahmad bin Hanbal melewati kami sambil menenteng kedua sandalnya dengan kedua tangannya. Beliau berlari di jalan-jalan kota Baghdad, berpindah dari satu halaqah ke halaqah yang lain. Maka berdirilah ayahku dan memegang bajunya dan bertanya, ‘Wahai Abu Abdillah! Sampai kapan engkau terus menuntut ilmu?’ Maka beliau menjawab, ‘Sampai mati.’” [14]

Sesungguhnya apabila ilmu syar’i telah ditinggalkan, maka cita-cita akan menjadi lemah dan berkurang untuk mencapainya. Semoga dengan sedikit kisah kesabaran dan kesungguhan para ulama di dalam menuntut ilmu menjadikan diri kita memiliki semangat untuk mengikuti jejak mereka dan berjalan di atas jalan mereka.

فكن رجلا رجله في الثرى وهامة همته في الثريا

Maka jadilah seorang yang kakinya berada di atas tanah
Sedangkan cita-citanya setinggi bintang tsurayya
(Ibnul Jauzi)

catatan kaki:
[1] dikeluarkan oleh Ibnu Hibban dalam Raudhatul ‘Uqala dan Ibnu Abdil Barr
[2] Ma’rifah ‘Ulumul Hadits, hal. 2
[3] Tadzkirah Al-Huffazh (3/1032) karya Al-Imam Adz-Dzahabi
[4] Tadzkirah Al-Huffazh (2/631)
[5] Tarikh Baghdad (2/4) karya Al-Khatib Al-Baghdadi
[6] Tarikh Baghdad (2/10)
[7] Tadzkirah Al-Huffazh (4/1238) dengan ringkas
[8] Tadzkirah Al-Huffazh (4/1243)
[9] Al-Bidayah wa An-Nihayah (10/329) karya Al-Imam Al-Hafizh Ibnu Katsir
[10] Ath-Thabaqat Al-Kubra (2/227) karya As-Subki
[11] Syaraf Ashhabul Hadits karya Al-Khatib Al-Baghdadi
[12] Al-Bidayah wa An-Nihayah (11/28)
[13] Al-Jami’ li Akhlaq Ar-Rawi hal. 2 karya Al-Khatib Al-Baghdadi
[14] Syaraf Ashhabul Hadits hal. 68

referensi: Waratsatul Anbiya karya Syaikh Abdul Malik Al-Qoshim

Sumber : http://rizkytulus.wordpress.com/2013/06/05/perjuangan-dan-semangat-para-ulama-dalam-mencari-ilmu/
Read More
Posted in by El-Huda Jumat, Mei 09, 2014 No comments

Rabu, 16 April 2014

http://www.muslimheritage.com/sites/default/files/hanbal2_0.jpg

    Kisah ini terjadi pada zaman Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah. Pada suatu saat ketika sedang berpergian, Imam Ahmad ingin menginap di sebuah masjid, dimana beliau berniat untuk menghabiskan malamnya disana. 
    Namun penjaga masjid tidak mengenali siapa beliau ini sehingga ketika beliau meminta izin untuk berada di dalam masjid hingga datangnya waktu subuh, penjaga masjid menolaknya. Meskipun beliau sudah berulangkali membujuk sang penjaga masjid untuk diizinkan bermalam di sana, namun keputusan dari penjaga masjid tidak dapat diganggu gugat. 
   Akhirnya Imam Ahmad dikeluarkan dari area masjid dan beliau terpaksa mencari tempat bermalam di lain tempat. Ketika beliau diusir hingga keluar area masjid, kebetulan lewatlah seorang tukang penjual roti yang melihat kejadian itu. Tukang roti itu tertarik untuk mengetahui apa yang sedang terjadi kepada Imam Ahmad sampai diusir oleh penjaga masjid. Ketika Imam Ahmad menceritakan yang dialaminya kepada tukang roti, si tukang roti ini menjadi iba, dan dengan kebaikan hatinya ia menawarkan Imam Ahmad untuk menginap di rumah tukang roti. 
    Senang dengan tawaran si tukang roti, imam Ahmad lantas menerima tawaran tersebut dan mereka berdua berjalan menuju rumah si pembuat roti. Di rumah pembuat roti, Imam Ahmad dijamu dengan baik layaknya seorang tamu. Entah karena ingin menyembunyikan identitas atau karena tidak ditanya oleh tuan rumah, Imam Ahmad tidak mengenalkan dirinya sebagai Imam Ahmad bin Hanbal, seorang ulama besar yang namanya begitu terkenal. Lalu setelah beberapa saat bercengkerama, si pembuat roti mempersilakan Imam Ahmad untuk beristirahat, sementara ia sendiri menyiapkan adonan untuk membuat roti untuk ia jual esok hari. 
     Lalu ada yang menarik perhatian Imam Ahmad dari pembuat roti ini. Si pembuat roti bekerja sambil melantunkan istighfar. Ia terus beristighfar dan terus melafalkannya sampai pekerjaannya selesai. Hal ini didengar oleh Imam Ahmad sehingga membuat beliau terkesan... Keesokan harinya, Imam Ahmad yang penasaran kemudian bertanya kepada pembuat roti,"Semalam terdengar olehku lantunan istghfar yang terus menerus engkau baca ketika engkau sedang membuat adonan roti. Katakanlah kepadaku wahai tuan, apakah engkau mendapat sesuatu dari bacaan istighfar yang engkau baca?". Hal ini sengaja ditanyakan oleh Imam Ahmad karena sebagai seorang ulama yang sangat tinggi ilmu agamanya tentu beliau tahu persis tentang keutamaan istighfar, serta faidah-faidah bagi yang sungguh- sungguh mengamalkannya. 
    Si pembuat roti lalu menjawab,“Ya.. Begitulah adanya.. Sungguh saya benar- benar telah mendapatkan faidah dari keutamaan melazimkan istighfar. Demi Allah, sejak saya melazimkan istighfar, saya tidak memohon sesuatu kepada Allah kecuali pasti dikabulkan. Doa saya selalu diijabah oleh-Nya. Hanya ada satu doa saya yang belum terkabul sampai saat ini.” Imam Ahmad bertanya, “Apa itu?” Si pembuat roti berkata, “(Permohonan untuk) dapat bertemu dengan Imam Ahmad bin Hanbal!” Mendengar hal tersebut, tersenyumlah Imam Ahmad. Nampaknya beliau sudah mengerti hikmah kejadian diusirnya beliau dari sebuah masjid kemarin malam. Allah berkehendak mengabulkan doa si pembuat roti dengan perantara peristiwa semalam sampai pada akhirnya beliau bertemu dengan si pembuat roti. Lalu Imam Ahmad berkata,“Wahai tuan, Saya-lah Ahmad bin Hanbal. Demi Allah, Allah-lah yang mengaturku sehingga bisa bertemu denganmu.” Subhanallah..
Marilah kita memperbanyak istighfar supaya Allah swt senantiasa mengabulkan doa kita semua..
Read More
Posted in by El-Huda Rabu, April 16, 2014 No comments

Selasa, 25 Maret 2014



الحياء من الإيمان
 ..
Begitulah sabda baginda Rasulullah SAW, siapa saja yg mengaku beriman, pasti dia mempunya sifat malu dalam hal melakukan kemaksiatan kepada Allah, karena dalam ketaatan atau kebaikan tida ada yang perlu kita malu, karena malu itu akan menghasilkan kebaikan seluruhnya. Jadi jika ada seseorang yang melakukan hal yang tidak baik, berarti ia tidak mempunya keimanan di dalam hatinya, malu akn menjaga kita dari maksiat kepada Allah azza wajalla. Sepatutnya kita malu hanyalah kepada Allah.....
Read More
Posted in by El-Huda Selasa, Maret 25, 2014 No comments

Selasa, 18 Maret 2014

http://1.bp.blogspot.com/-FneKf8JLSWE/T6eVYtmaQXI/AAAAAAAAAAM/bA3I8-guTgY/s1600/contoh-surat-wasiat.jpg
 Di dalam kitab Tadzkirul Mustofa disebutkan satu wasiat yang sangat berharga, yang disampaikan oleh   Al Habib Abdurrahman bin Ali bin Abu Bakar As Sakron kepada Syekh Abud bin Faqih secara khusus. Dan secara umum merupakan wasiat juga bagi setiap muslim.
    
Mudah – mudahhan kita semua dapat mencontoh dan melaksanakannya, amin.

أَلاَ يَابْنَ الْفَقِيْهِ يَاعَبُوْد اِسْمَعْ بِنِيَّهْ
      تَيَقَّظْ فِيْ دُجَى اللَّيْلِ وَاسْمَعْ ذِي الْوَصِيَّهْ
1. Ingatlah bangun malam dan dengarkan nasihat ini .
إِلَى الرَّحْمَنِ تُبْ مِنْ ذُنُوْبِكَ وَالْخَطِيَّهْ
      وَلاَزِمْ ذِكْرَ مَـوْلاَكَ بُكْـرَةً وَالْعَشِـيَّهْ
2. Bertobatlah kepada Allah dari dosamu dan kesalahan.
3. Dan selalulah ingat kepada Allah di pagi dan sore hari.
عَلَى الصَّلَوَاتِ وَاظِبْ عَلَيْهَا فِي الْجَمَاعَهْ
      وَلاَ تَغْـفُلْ عَنِ الذِّكْرِ  ِللهِ كُلَّ سَـاعَهْ
4. Tetapilah selalu sholat dengan berjamaah.
5. Jangan lalai dari dzikir mengingat Allah di setiap waktu.
وَصُرَّ الْبَطْنَ وَاصْبِرْ عَلَى طُوْلِ الْمَجَاعَهْ
      تَغَـانَمْ سَـاعَةَ الْعُمْرِ مَنْ قَبْلِ الْمَـنِيَّهْ
6. Sabarlah ketika haus dan lamanya lapar.
7. Ambillah kesempatan umur untuk ibadah sebelum meninggal.
وَبَعْدَ الْمَغْرِبِ ارْكَعْ أَوِ اقْرَأْ بِالتَّدَبُّرْ
      أَوِ اذْكُرْ وَإِنْ صَفَا الْقَلْبُ فَاسْبَحْ فِي التَّفَكُّرْ
8. Sholatlah (Awabin) setelah Maghrib atau bacalah Quran dengan tadabbur.
9. Atau berdzikir , dan jika hati jernih maka banyaklah tafakkur.
إِلَى وَقْتِ الْعِشَا اِحْذَرْ تَنَامُ أَصْلاً وَتُهْمَرْ
      عَسَى تُحْمَى وَتَحْـظَى بِأَلْطَـافٍ خَفِيَّهْ
10. Sampai waktu Isya’ jangan tidur sama sekali
11. Semoga engkau mendapat bagian dari kelembutan pemberian Allah yang rahasia.
وَلاَ تَسْمُرْ فَتُقْمَرْ عَنِ الطَّاعَاتِ وَالدِّيْن
      تَجَنَّبْ جَمْ جِـدًّا مِنَ السُّفَهَا الشَّيَاطِيْن
12. Janganlah jaga malam (begadang) untuk ngobrol, maka kau tidak bisa melakukan ketaatan.
13. Jauhilah sejauh-jauhnya teman bodoh yang berkelakuan seperti syetan.
تَبَعَّدْ لاَ تُجَالِسْ سِوَى الضُّعَفَا الْمَسَاكِيْن
وَتُبْ بَعَْدَ الطَّـهَارَةُ وَنَمْ صَافِي الطَّـوِيَّه
14. Menjauhlah jangan duduk kecuali dengan orang yang lemah dan miskin (agar kau bersyukur)
15. Dan taubatlah setelah sesuci (wudhu’) dan tidurlah dalam keadaan hati bersih (tanpa dendam)
وَقُمْ فِيْ آخِرِ اللَّيْلِ صَلِّ وَاقْرَأْ وَهَلَّلْ
      تَفَـهَّمْ سِـرَّ مَعْـنَى كَلاَمِ اللهِ وَرَتَّـلْ
16. Bangunlah di akhir malam untuk sholat dan membaca kalimat tahlil.
17. Pahamilah rahasia makna Kalam Allah Al Quran dan bacalah dengan tartil.
وَبِاسْتِغْفَارِ مَوْلاَكَ قَبْلَ الْفَجْرِ كَمَّلْ
      وَصَلِّ الصُّـبْحَ تَكْفِي مِنَ اللهِ كُلَّ أَذِيَّه
18. Dan sempurnakanlah beristghfar kepada Tuhanmu sebelum waktu Subuh
19. Kemudian sholatlah Subuh, maka engkau tercegah oleh Allah dari segala gangguan.
وَبَعْدَ الصُّبْحِ فَاذْكُرْ إِلَى أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْس
وَكُنْ فِي الْيَوْمِ أَحْسَنَ فِي الطَّاعَاتِ مِنْ أَمْس
20. Dan setelah Subuh berdzikirlah sampai terbit matahari.
21. Jadikanlah hari ini lebih baik dalam ketaatan dari pada hari kemarin.
وَلاَ تَكْسَلْ مِنَ الْخَيْرِ وَاذْكُرْ فَصَّةَ الرَّمْس
      وَقُمْ صَلِّ الضُّـحَى بَعْدَ اِشْـرَاقِ الْمُضِيَّهْ
22. Jangan malas dari kebaikan dan ingatlah ketika kau kelak diantar ke kuburan.
23. Bangkitlah untuk sholat Dhuha setelah matahari keluar dan nampak terang.
وَلاَ تَهْتَمْ أَصْلاً بِرِزْقِكَ فَهُوَ مَضْمُوْن
      ضَمِنَ بِهِ بَارِئُ الْكَوْنِ بِسِرِّ الْكَافِ وَالنُّوْنِ     
24. Dan janganlah sama sekali bingung dengan masalah rizki karena itu sudah ditanggung
Oleh Allah yang menciptakan semua makhluk dengan ucapan “kaf” dan “nun”  “kun” jadi maka terjadilah.
Read More
Posted in by El-Huda Selasa, Maret 18, 2014 No comments

Minggu, 27 Januari 2013

Sekilas Tentang 
Mbah RADEN ALI
(Sang Pembuka Tanah Ngelom Pesantren Sepanjang)



Pengantar Penulis

Bismillahirrohmanirrohim
 
Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan Sayyid Muhammad dan mengutusnya sebagai rahmat bagi seluruh alam. Shalawatullah wa salamuhu semoga tetap terlimpahkan kepada Beliau, junjungan kita, nabi besar sayyid Muhammad SAW, wa alihi, wa ashhabihi, wa azwajihi, wa dzurriyyatihi, wa ahli baitihil kirom.
Catatan ini sangatlah jauh untuk disebut sebagai Biografi Mbah Raden Ali. Sungguhpun demikian, adalah karna sangat sedikitnya data informasi dan catatan yang menceritakan tentang kehidupan Mbah Raden Ali yang penulis dapatkan sebagai acuan penulisan catatan ini. Semua itu disebabkan karna rentang jarak  waktu masa hidup Mbah Raden Ali dengan waktu penulisan catatan ini sangatlah jauh keterpautannya (kurang lebih selisih sekitar 170 tahun), sehingga orang-orang yang hidup satu kurun waktu dengan beliau, yang pernah bertemu dan mengenal beliau, yang dapat diambil keterangannya prihal Mbah Raden Ali, tidak lagi dapat dijumpai. Kecuali cerita dari mulut ke mulut, dan catatan  tentang Mbah Raden Ali milik Kyai Imam bin Idris bin Muhammad bin Abu Hasan, serta beberapa catatan milik KH Sholeh Qosim, KH Anas, Agus Atiquddin Mustawa, dan Catatan milik Agus Dzofir Thohir yang kemudian pada akhirnya penulis jadikan sebagai acuan bahan penulisan catatan ini.
Kenyataan tersebut yang akhirnya menggugah hati penulis, tergerak untuk membukukan sejarah Mbah Raden Ali. Penulis berfikir, seiring dengan waktu yang terus berlalu, seandainya catatan tentang Mbah Raden Ali milik Kyai Imam bin Idris dan catatan tentang Mbah Raden Ali milik beberapa orang lainnya telah lapuk karna termakan usia sehingga tulisannya tidak lagi dapat terbaca, atau rusak karna tergerus  roda  waktu yang berputar,  sedangkan sejarah tentang Mbah Raden Ali belum sempat dibukukan atau sekedar disalin kembali, maka bukan tidak mungkin lagi, Mbah Raden Ali hanyalah akan menjadi sebuah nama Mbah Raden Ali belaka, yang tak satupun orang dan keturunannya bisa mengenal sejarahnya lagi. Dan bukankah bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa mengenang dan menghargai jasa para pahlawannya ?
Sadar akan hal itu, walau hanya dengan berbekal sedikit keterangan data dan informasi yang di himpun, akhirnya penulis memberanikan diri untuk membukukan kisah Mbah Raden Ali kedalam judul Sekilas Tentang Mbah Raden Ali Sang Pembuka Tanah Ngelom Pesantren Sepanjang. Bukan dengan dan atas tujuan yang lain.
Akhirnya, marilah kita hadiahkan bacaan Surat Al Fatikhah kepada beliau, Mbah Raden  Ali  wa ushulihi wa furu’ihi, wa man intasaba ilaihi, wa man ahabba ilaihi, wa man zaro ila qobrihi, semoga Allah mensucikan jiwa dan ruhnya, Amin ya Rabbal Alamin, Al Fatihah : ……
                                                 



Pendahuluan
Sekilas profil tentang Raden Ali
                  Mbah Raden Ali adalah seorang ulama’ pembuka (babat) tanah Ngelom Pesantren pada sekitar tahun 1261 Hijriyyah, beliau juga seorang Waliyullah ahli Thariqah Syaththariyah, penyebar dan peletak dasar ajaran Islam yang berhaluan faham Ahlus Sunnah Wal Jamaah di daerah Ngelom Sepanjang dan sekitarnya, Beliau juga The Founding Father (Mu’assis) Pondok Pesantren Salafiyah Bahauddin Ngelom Taman Sepanjang Sidoarjo.
                  Dalam tubuh Raden Ali mengalir darah  keturunan Kiangeng Selo atau Abdurrahman Al Masyhur  Bi Waliyyin  fi  Kullil  Balad (yang  dikenal oleh banyak orang disetiap negeri sebagai Waliyullah). Raden Ali dilahirkan dari seorang Ayah bernama Raden Mas Pangeran Kerthoyudo putra Sultan Agung Dipura, Ibunda Beliau bernama Raden Ayu Ibu, putri Raden Mas Kantri atau yang lebih dikenal dengan sebutan Raden Mas Umbul Suwelas putra dari Al Karomah Al Akbar Al Khoir Ahmad atau yang lebih dikenal dengan sebutan Raden Ronggo, Sultan Ngaloga.
                  Perjalanan hidupnya, semenjak kecil Raden Ali telah menjadi seorang anak yatim piatu. Ayahandanya Raden Mas Pangeran Kerthoyuda telah meninggal dunia ketika beliau masih berumur sepuluh bulan berada dalam kandungan Ibundanya. Kemudian ketika usia kandungan Sang Ibunda telah berumur sebelas bulan ia terlahir kedunia, namun tak lama kemudian sang Ibunda pun juga pergi menghadap Allahu Rabbul Izzati, sang Maha Kekal Abadi, meninggalkan Raden Ali kecil yang masih berumur satu bulan.
                  Hari demi hari terlewati, Raden Ali kecil tumbuh tanpa pernah menikmati damainya ayunan gendongan wanita yang telah melahirkannya, tak pernah mendengar merdunya dendang nina bobo sang Ibunda tercinta, juga tak pernah merasakan belai lembut tangan sang Ayahanda yang penuh kasih sayang mengusap kepalanya. Raden Ali kecil terus tumbuh menjadi dewasa, hidup dalam keprihatinan yang tak semestinya beliau alami  sebagai  seorang  keturunan  darah  biru, layaknya para putra bangsawan, keturunan  ningrat. Namun kenestapaan dan kepedihan hidup  yang dialami Raden Ali tidaklah membuat Raden Ali terpaku dalam keputus-asaan yang maha panjang, atau tersesat kejalan yang hitam yang tidak diridloi Allah SWT. Beliau tetap tegar dalam kesederhanaan, teguh memegang aqidah, tabah menjalani kehidupan, sabar menjalankan kewajiban sebagai hamba. (sabar adalah kunci segala kesuksesan, sabar dalam musibah adalah pakaian Nabi Ayyub, Sabar dalam ketaatan adalah hiasan Nabi Ibrahim, Sabar dalam menolak kemaksiyatan adalah mahkota Nabi Yusuf, Ketidak sabaran adalah yang mengakibatkan perpisahan antara Musa dan Khidir, Ketidak sabaran adalah penyebab kekalahan kaum muslimin dalam Uhud, Ketidak sabaran adalah penyebab berbagai kebaikan lepas dari genggaman).
              

                  Seiring terus berjalannya waktu, Raden Ali kecil terus tumbuh dewasa. Dalam pertumbuhannya, beliau telah berhasil memadukan beberapa aspek kepribadian dalam kehidupannya, kesederhanaan, keteguhan, kearifan, ketaqwaan, kreatifitas, kesabaran, tawakkal, zuhud, wara’, qana’ah, tawaddlu’ telah membentuk pribadi beliau menjadi sosok Raden Ali dewasa yang tegar, yang sehingga layaklah beliau disebut sebagai Khalifatullah Fil Ardl, mandataris Allah dimuka bumi ini.
Konon diceritakan, bahwa kebesaran nama Mbah Raden Ali telah banyak mengundang kedatangan para santri dari pelosok penjuru pulau Jawa untuk ngangsu kaweruh agama (menimba ilmu agama) pada Mbah Raden Ali, mulai dari Banten, Cirebon, serta masyarakat sekitar Sidoarjo-Surabaya, bahkan sampai Madura. Sayang, kebesaran nama beliau, tak ada satu pun sejarah yang mencatatnya, mencatat sejarah seorang tokoh Ulama besar sekaligus Waliyullah yang mempunyai banyak kelebihan atau karomah yang tidak banyak dimiliki oleh manusia biasa pada umumnya.
                  Diantara Keanehan atau kalaulah boleh disebut sebagai karomah Mbah Raden Ali adalah, konon bila seseorang memasuki perkampungan Ngelom Pesantren dengan kendaraannya, kuda umpamanya sebagai salah satu kendaraan waktu itu, atau sepeda, atau sepeda motor, yang dengan sambil dikendarai atau ditunggangi, bukan turun dari kendaraan dan  menuntunnya  menyusuri  jalan,  maka yang terjadi, pantat sang penunggang atau pengendara akan terus lengket dan melekat di tempat duduk kendaraannya, dan tidak akan pernah bisa dilepaskan sampai ia meminta maaf pada Mbah Raden Ali.
                  Sepenggal kisah yang lain juga pernah menceritakan, bahwa setiap kali ada rombongan kesenian yang melewati daerah Ngelom Pesantren yang sambil membunyikan suara musik tabuhan gamelan atau semacamnya, ketika sudah memasuki daerah Ngelom Pesantren, maka semua alat musiknya tidak dapat mengeluarkan bunyi-bunyian atau suara ketika ditabuh atau dibunyikan, sampai rombongan itu benar-benar keluar dari daerah atau wilayah Ngelom Pesantren.
                  Ada lagi kisah yang lain, diantara salah satu putra Raden Ali adalah yang bernama Jaya Ulama, yang dikenal pada masa mudanya sebagai berandal yang sering kali merampok setiap pedagang atau saudagar yang melewati wilayah sepanjang dan sekitarnya. Berita tentang sikap berandal yang dimiliki Jaya Ulama, lambat laun akhirnya terdengar juga ditelinga Raden Ali. Kemudian dengan diam-diam Raden Ali menyusun sebuah rencana penyamaran sebagai saudagar yang melewati daerah Ngelom Sepanjang dengan membawa pedati yang berisi tumpukan lantakan emas dan berlian yang entah didapatkan dari mana oleh Raden Ali waktu itu. Selanjutnya, sesuai dengan rencana, ketika Raden Ali yang kala itu dengan memakai cadar penutup muka bersama dengan pedati yang membawa lantakan emas serta berlian melewati daerah Ngelom Sepanjang, pedati itupun dicegat dan direbut paksa oleh Jaya Ulama. Namun tidak dengan mudahnya begitu saja Raden Ali menyerahkan harta bawaannya kepada Jaya Ulama. Akhirnya terjadilah perkelahian diantara mereka, yang kemudian sebuah tebasan pedang Jaya Ulama mengenai tubuh Raden Ali. Bukan karna Raden Ali kalah oleh Jaya Ulama, tapi memang sengaja hal itu dilakukan oleh Raden Ali. Dan ketika tebasan pedang Jaya Ulama berbenturan dengan tubuh Raden Ali, terlihatlah seperti sebuah kilatan cahaya memancar dari tubuh Raden Ali. Namun perkelahian terus berlanjut, sampai pada akhirnya disuatu kesempatan dalam perkelahian itu, dibiarkannya tangan Jaya Ulama meraih dan menarik cadar penutup muka Raden Ali. Kaget setelah tahu bahwa yang berhadapan dengannya adalah Raden Ali Ayahandanya, Jaya Ulama kemudian duduk bersimpuh, memohon ampun pada Ayahandanya dan bertaubat dari segala prilakunya yang tidak baik, yang merugikan diri sendiri dan orang lain.
                  Karomah beliau yang lain (ba’dal mamat) yang sering tampak adalah, seringkali bagi para peziarah makam Mbah Raden Ali (walau tidak semua peziarah), ketika mereka sedang berziarah di waktu malam hari, mereka seringkali dapat melihat macan putih atau kuda putih disekitar makam beliau (macan putih dan kuda putih adalah symbol kebesaran, keperkasaan dan kemulyaan para Wali Allah). Konon juga sering di ceritakan manakala ada burung pipit atau burung lainnya yang terbang dan tiba-tiba melintas diatas makam beliau, pasti akan jatuh dan mati terkapar diatas tanah.


SILSILAH
MBAH RADEN ALI
PEMBUKA/BABAT TANAH
NGELOM PESANTREN
                  Menurut catatan Kyai Imam bin Idris bin Muhammad bin Abu Hasan, dan beberapa catatan para sesepuh Ngelom Pesantren, asal usul silsilah Mbah Raden Ali adalah sebagai berikut :
1.      Abdurrahman (Al Karomah Al Masyhur bi Waliyyin fi kullil Balad).
Menurut beberapa sumber dari catatan silsilah raja-raja Mataram, Abdurrahman disini adalah Kiageng Selo. Dan menurut  catatan Para leluhur Ngelom Pesantren Abdurrahman atau Kiageng Selo adalah juga Abdurrahman Assegaf Al Karomah Al Masyhur bi Waliyyil Quthbi fi kullil Balad. Sedangkan Kebenarannya adalah Wallohu a’lamu biha.
Beliau menurunkan :
2.      Abdullah
Beliau menurunkan :
3.      Raden Mas Salim
(Al Masyhur Raden Mas Salim Pemanahan)
Alkisah, beliau mengabdikan diri di kesultanan Pajang sebagai Lurah Tamtama.
Beliau menurunkan :
4.      Al Kabir Al Khoir Al Aziz Abi Bakar
(Al Masyhur Raden Mas Ngabehi/ Senopati Sutawijaya / Sultan Mataram).
Alkisah, beliau diangkat putra oleh Sultan Hadiwijaya, Sultan Pajang, dan kemudian pada akhirnya diambil menantu oleh Sultan Hadiwijaya.
Wafat dimakamkan di Imogiri Yogyakarta
Beliau menurunkan :
a.     Sultan Krapyak (Al Masyhur Raden Julang)
b.    Al Karomah Al Akbar Al Khoir Ahmad
      (Al Masyhur Raden  Ronggo/Sultan Ngaloga).  
      Beliau menurunkan :
Husein (Al Masyhur Sultan Amangkurat I Kertasura). Wafat dimakam kan di Tegal Arum Pekalongan.
Beliau menurunkan :
1.      Hamzah (Al Masyhur Pangeran Puger)    
2.      Sunan Amangkurat (Al Masyhur Sultan Amangkurat  II).
Beliau menurunkan :
Pangeran Amangkurat Mas (Al Masyhur Sultan Amangkurat  III)
Alkisah, oleh karena Pangeran Amangkurat Mas (Sultan Amangkurat III) tiba tiba menghilang tidak diketahui kemana perginya maka kesultanan Mataram digantikan oleh paman beliau yaitu Sayyid Syarif Hamzah (Al Masyhur Pangeran Puger) yang kemudian bergelar Pangeran Hamengku Buwono yang pertama.
3.   Raden Ayu Samilah.
5.   Sultan Krapyak (Al Masyhur Raden Julang).
      Beliau menurunkan :
6.   Sultan Agung Purbaya
      Beliau menurunkan :
7.   Pangeran Jurunata Purbaya
Al kisah, Pangeran Jurunata Purbaya diambil menantu oleh Sunan Amangkurat Mas, diperistrikan putri beliau yang bernama Raden Ayu Samilah.
      Beliau menurunkan :
8.   Sultan Agung Dipura
      Beliau menurunkan :
a.      Raden Mas Pangeran Kerthonadi
Menurunkan Raden Ayu Robi’ah yang kemudian diperistri Seorang Cina beragama Islam bernama Baba Teksu
b.      Raden Mas Pangeran Kerthoyuda
c.       Raden Ayu Kendung
9.      Raden Mas Pengeran Kerthoyuda.
Wafat dimakamkan di Sekar Kenongo.
Raden Mas Pangeran Kerthoyuda adalah seorang Ahli Thoriqoh Saththoriyah yang suka mengembara. Beliau merantau ke desa Suropringgo (sekarang Surabaya) dengan berjalan kaki, diceritakan bahwa karna begitu lama dan jauhnya perjalanan yang ditempuh, jarit/sarung yang dipakai oleh Raden Mas Pangeran Kerthoyuda hingga robek dan compang-camping. Kemudian setelah sampai di Suropringgo tepatnya didesa lempuyangan, beliau berhenti dan bertamu ke rumah Raden Mas Kantri (Al Masyhur Raden Mas Umbul Suwelas putra dari Raden Mas Ronggo Alkaromah Al Akbar Al Khoir Ahmad/Sultan Ngaloga), yang diberi kekuasaan untuk mengatur pemerintahan di daerah Suropringgo (Surabaya) bersama sebelas rekan beliau.
                  Kemudian Sesampainya Raden Mas Pangeran Kerthoyudo berada dan bertamu di rumah Raden Mas Umbul Suwelas, terjadilah percakapan diantara beliau yang pada saat itu belum saling mengenal. Raden Mas Umbul bertanya : “ Siapakah kisanak ini ? dan Siapakah leluhur kisanak, kok datang kemari tanpa ada yang menemani ?”. Jawab Raden Mas Pangeran Kerthoyuda memperkenalkan diri,“Kulo (saya)  adalah Mas  Pangeran Kerthoyudo, putra Pangeran Agung Dipura”. Mendengar itu, Raden Mas Umbul merasa bahagia karna bisa bertemu dengan kerabatnya di daerah rantau : “Duh Sanak kadang, Saya adalah keturunan Senopati Ngaloga, Ramanda  adalah  Raden  Ronggo Sultan  Mentawis (Mataram). Saya beserta Sebelas rekan saya ditugaskan oleh Ramanda untuk mengatur pemerintahan di daerah Surabaya, dan kebetulan saya adalah yang bertanggung jawab didaerah dalam Kota Suropringgo (Surabaya)  ini”.
Singkat kata, di akhir pembicaraan, Raden Mas Umbul meminta kepada Raden Mas Pangeran Kerthoyudo agar berkenan menikahi putri ragil beliau yang bernama Raden Ayu Ibu., yang pada saat itu berumur sembilan belas tahun. Menjawab akan permintaan Raden Mas Umbul, Raden Mas Pangeran Kerthoyudo berkata : “Jika itu adalah kehendak dan dapat membahagiakan sampeyan, saya ikut kehendak sampeyan saja”.
            Maka pada tanggal 11 bulan Robi’ul Akhir di tahun Dal Raden Mas Pangeran Kerthoyudo menikah  dengan  Raden  Ayu Ibu,  putri  dari  Raden Mas Umbul/Raden Mas Kantri.
Seiring berjalannya waktu, setelah Raden Mas Pangeran Kerthoyudo menikah dengan Raden Ayu Ibu, ternyata lambat laun Raden Mas Pangeran Kerthoyudo mengalami ketidak cocokan dengan mertua beliau, yang pada akhirnya menyebabkan Raden Mas Pangeran Kerthoyudo berkeinginan untuk pergi mengembara lagi bersama istrinya.
                  Dalam pengembaraannya, beliau menuju keutara-selatan, yang akhirnya Raden Mas Pangeran Kerthoyudo bersama istrinya tiba di desa Semolo dan bertemu dengan seseorang yang pada saat itu sedang menuntun seekor sapi. Segera Raden Mas Pangeran Kerthoyudo bertanya : “Siapakah nama kisanak dan dimana Rumah Sampeyan ?” Sang penuntun sapi menjawab : “Nama saya Gibah,  rumah saya  berada di dusun Prapen”. Raden Mas Pangeran Kerthoyudo melanjutkan bicaranya : “kalau begitu saya mau tutwuri (ikut)  sampeyan  saja,  saya  sudah  sangat lelah, barangkali sampeyan punya air sekedar untuk saya minum”. Walhasil Raden Mas Pangeran Kerthoyudo dan istrinya dipersilahkan oleh Kyai Gibah datang ke rumah beliau untuk makan dan minum seadanya.
           Setelah makan dan minum, Raden Mas Pangeran Kerthoyudo dan Kyai Gibah kemudian bercakap-cakap kembali, saling memperkenalkan diri lebih jauh. Dalam percakapan tersebut akhirnya Kyai Gibah meminta kepada Raden Mas Pangeran Kerthoyudo untuk menetap di rumahnya, “Sampean (Raden Mas Pangeran Kerthoyudo) jangan pergi kemana-mana, tinggal saja dirumah saya bila Sampeyan berkenan dan kerasan, saya ingin sampeyan mengajarkan ilmu agama kepada saya, sebab saya  senang dan  bahagia sekali bisa dekat dan memperdalam ilmu ibadah pada sampeyan” kata Kyai Gibah pada Raden Mas Pangeran Kerthoyuda.
   Selanjutnya, menetaplah Raden Mas Pangeran Kerthoyudo bersama istrinya di dusun prapen, tepatnya di rumah Kyai Gibah, sambil mengajarkan ilmu agama islam dan dzikir Thariqoh Syaththariyah kepada Kyai Gibah dan istrinya.
            Waktu terus berjalan, akhirnya istri Raden Mas Pangeran Kerthoyudo (Raden Ayu Ibu) mengandung putra pertamanya. Dan ketika kandungan Raden Ayu Ibu telah berumur sekitar sepuluh bulan, Raden Mas Pangeran Kerthoyudo berkeinginan untuk sambang ke negeri Kertasura (itupun  setelah  meminta  persetujuan  dari  istri  beliau untuk ditinggal di dusun prapen di rumah Kyai Gibah). Kepada Kyai Gibah beliau menitipkan istrinya selama ditinggal sementara waktu, “mungkin sekitar enam puluh hari saya sudah kembali lagi di dusun Prapen” kata Raden Mas Pangeran Kerthoyudo kepada Kyai Gibah. “Inggih, dido’akan saja, Mudah-mudahan saya diberikan kekuatan dan kesehatan dalam menjaga dan ngopeni (menghidupi) istri  Raden  Mas”, begitu jawab Kyai Gibah. Raden Mas Pangeran Kerthoyudo juga berpesan kepada Kyai Gibah : “Apabila suatu saat istri saya melahirkan anak laki-laki, maka berilah nama Raden Ali, dan jika bayi yang dilahirkan adalah perempuan maka terserah sampeyan untuk memberi nama”.
              Sepeninggal Raden Mas Pangeran Kerthoyudo, Raden Ayu Ibu merasa  hari-harinya gundah gulana, kesepian karna ditinggal suami tercintanya pulang ke negeri Kertasura.
              Sementara itu, setelah Raden Mas Pangeran Kerthoyudo telah sampai di Kertasura, tak lama kemudian beliau meninggal dunia di sana, dan kemudian dimakamkan di dusun Sekar Kenongo.
   Sementara itu pula, ketika kandungan Raden Ayu Ibu telah berumur sekitar sebelas bulan, beliau melahirkan seorang putra laki-laki yang kemudian diberi nama Raden Ali, seperti yang telah diamanatkan oleh Raden Mas Pangeran Kerthoyudo kepada istri tercintanya dan Kyai Gibah.
10. Raden Ali (Al Masyhur Mbah Raden Ali)
Wafat dimakamkan di Ngelom Pesantren Taman Sepanjang.

            Alkisah, Ketika Raden Ali kecil menginjak umur satu bulan, Raden Ayu Ibu meninggal dunia. Kemudian Raden Ali kecil diasuh oleh Kyai Gibah dan  istrinya. Saat mengasuh  Raden  Ali  kecil,  Kyai Gibah bersama istrinya senantiasa merasa bahagia, terlebih sejak kecil Raden Ali tidak pernah mengalami sakit-sakitan. Pun juga, Kyai Gibah merasa ada yang istimewa ketika mengasuh Raden Ali kecil, tanaman mentimunnya    selalu   panen    dengan   hasil    yang melimpah, rizkinya pun semakin hari semakin bertambah banyak pula.
            Semenjak kecil Raden Ali telah memiliki sifat menjauhi cinta dunyo brono (harta dunia). Kemudian setelah Raden Ali beranjak dewasa beliau melakukan puasa riyadloh, dan berkhalwat di dusun Bendul Surabaya. Tiap hari beliau tidak banyak merasakan tidur, tidak pula banyak makan. Hari-hari beliau jalani dengan berpuasa. Kalaupun beliau harus tidur, beliau tidur diatas rakitan bambu berbantal kayu. 
            Suatu ketika, saat Raden Ali telah berkeluarga namun masih belum dikaruniai putra, beliau mempunyai seorang santri (murid) yang bernama Jamal, yang diberi tugas oleh beliau untuk merawat dan menanam berbagai tanaman palawija di tanah milik Raden Ali, seperti cabe, terong, kerai, dan kacang kacangan. Namun anehnya, ketika tanaman tersebut telah masak dan siap untuk dipetik, justru beliau diperintah oleh Raden Ali untuk segera mengumumkan kepada warga masyarakat, barang siapa yang berkenan dan menghendaki hasil tanamannya agar memetik sendiri.
            Selanjutnya Raden Ali menetap  dan mendirikan pesantren di dusun Ngelom Sepanjang Taman Sidoarjo (sebuah kawasan atau daerah yang waktu itu berada dalam kekuasaan Adipati Jenggala), yang kemudian pada perkembangannya, akhirnya   Ngelom dikenal sebagai pusat awal perkembangan Islam di daerah Sekitarnya. Raden Ali wafat dan dimakamkan di dusun Ngelom Pesantren, kecamatan Taman  Sepanjang.  Dan   dari  seorang   istri, Mbah Raden Ali menurunkan 7 keturunan, 4 putra dan 3 putri  : 
1.      Bahauddin
Alkisah, ketika Bahauddin merantau, dalam rangka thalabul ilmi di kota Makkah Al Mukarramah, beliau meninggal dunia dan dimakamkan disana. Kemudian selanjutnya, untuk mengenang nama putra Mbah Raden Ali yang wafat di kota Makkah Al Mukarramah, maka masjid dan yayasan pondok pesantren di Ngelom diberi nama Bahauddin.
2.      Ahmad Rifa’i
Wafat dimakamkan di Ngelom Pesantren
3.      Abu Hasan
Wafat dimakamkan di Ngelom Pesantren
4.     Jaya Ulama
Alkisah, Jaya Ulama telah diberi izin oleh  Adipati Suropringgo  pada waktu itu, untuk mengajar ilmu agama di kota Suropringgo (Surabaya). Jaya Ulama mempunyai  seorang  putra  bernama  Mas  Ngabehi  Sumo  Direjo  yang  kemudian  diangkat menjadi adipati  di  kota  Suropringgo  (Surabaya) dikemudian hari. Jaya Ulama wafat dimakamkan didesa Wonocolo sepanjang.
5.      Sanifah
Wafat dimakamkan di Ngelom Pesantren
6.      Talbiyah
Wafat dimakamkan di Ngelom Pesantren
7.      Sahinah
Wafat dimakamkan di Ngelom Pesantren
Lokasi Kompleks
Makam Mbah Raden Ali
            Kullu Nafsin Dza’iqotul Maut, setiap yang bernafas pasti akan mengalami sesuatu yang disebut kematian. Tak ada satu pun di dunia ini yang akan kekal abadi. Bagi para Pendosa Musyrikin, kematian adalah pintu menuju siksa dan pesakitan abadi. Tapi sebaliknya, kematian bagi para Waliyullah adalah pintu yang mengantarkankannya menuju ruang kebahagiaan dan kedamaian yang hakiky serta abadi. Kematian bagi para Wali Allah adalah satu-satunya jalan untuk mengobati kerinduan perjumpaan    dengan Sang   Maha   Kasih.  Dan apakah ada yang dapat menandingi kenikmatan dan kebahagiaan bagi sang pecinta yang    memendam kerinduan selain berjumpa dengan sang kekasih, Allohu Rabbul Izzati ?. Karenanya, di bibir mereka selalu terlukis senyuman, manakala kematian menjemputnya. Tapi tidak bagi yang ditinggalkan, hujan air mata, dan duka karna ditinggalkan, pasti akan terasa menyesakkan dada. Mbah Raden Ali telah tiada, meninggalkan kita semua.
Tak ada satu catatan pun ditemukan yang menulis cerita tentang tahun, bulan, tanggal dan hari wafat Mbah Raden Ali. Akan tetapi dapat diketahui dari berita turun temurun yang disampaikan dari  mulut  ke mulut yang menyatakan bahwa Mbah Raden Ali meninggal  pada   bulan   Sya’ban    hari    ke    ketujuh  belas. Sedangkan mengenai tahun wafat beliau, informasi yang diterima oleh penulis dari beberapa orang, ternyata banyak terjadi perbedaan pendapat, yang semuanya tidak bisa dipertanggung jawabkan akurasi kebenarannya.
Jenazah Mbah Raden Ali di semayamkan di Kompleks pemakaman keluarga, di desa Ngelom Pesantren Kecamatan Taman Kabupaten Sidoarjo, tepatnya berada di sebelah selatan    Masjid   Bahauddin,   depan    Madrasah
Aliyah Bahauddin Ngelom.
                  Adapun akses jalan menuju pemakaman Mbah Raden Ali tidaklah banyak ditemukan kesulitan. Sebab Ngelom Pesantren adalah desa yang dilewati oleh jalan protokol yang menghubungkan antara Surabaya-Sepanjang, atau Sepanjang-Sidoarjo.
 
Sumber: http://darulmutaallimin1.blogspot.com/2012/05/sekilas-tentang-mbah-raden-ali-ngelom.html
Read More
Posted in by El-Huda Minggu, Januari 27, 2013 No comments

Forum Diskusi

Bookmark Us

Delicious Digg Facebook Favorites More Stumbleupon Twitter

Search Our Site